PERJALANAN SANG PENGGERAK_MERLIANA, S.Pd_CGP_ANGKATAN_2_SDN_7_Lahat_Selatan_Kab_Lahat


Perjuangan Awal

Tak tau harus memulai dari mana yang pasti kisah ini kutuliskan sebagai pengingat perjalanan panjang sebelum berakhirnya Program Guru Penggerak  (PGP) Angkatan 2 Kabupaten Lahat yang saya ikuti selama 9 Bulan.


Assalamualaikum wr.wb.

Kenalkan Nama saya Merliana, S.Pd. Seorang Guru Honorer sekaligus Ibu Rumah Tangga yang memiliki seorang Putra berusia 19 tahun dan seorang Putri berusia 14 tahun. Sebagai Guru Honorer yang memiliki masa kerja yang terbilang cukup baru yaitu Delapan (8) tahun  berlalang buana di dunia pendidikan PAUD dan SD  serta Aktif dalam Organisasi Pendidikan. Walau Usia masa Kerja yang belum puluhan tetapi sejak diri saya bergabung bersama Pendidik yang ada di Kab. Lahat, maka Tak henti-hentinya saya Ingin Terus Maju dan Belajar Menambah Khasanah dan Pengetahuan saya sebagai seorang Pendidik yang Profesional. 

Berawal dari Sebuah Chet Surat Elektronik Dinas Pendidikan mengenai Undangan dan Nama-nama pendaftar PGP  Angkatan 2 Kab. Lahat yang telah mendaftar di Tahap Awal dari Kepala Sekolah yang Beliau Share ke Group SDN 7 Lahat Selatan. Awalnya saya, seorang rekan saya sesama Honorer dan 1 orang guru PNS  senior ditunjuk oleh Ibu Kepala Sekolah untuk mengikuti Webinar Online  Program Guru Penggerak. Saya yang waktu itu Sebagai Guru Honorer yang tergolong baru di SDN 7 Lahat Selatan menurut saja apa yang diperintah oleh Pimpinan karena saya berfikir kegiatan  Webinar Online pasti ujung-ujungnya mendapat Ilmu baru dan Pengetahuan serta sebuah sertifikat.  

Sebelum mengikuti Webinar Online sejak Pandemi Covid-19 saya memang sudah Aktif mengikuti Program Seri Belajar di Akun SIM PKB seperti Guru Berbagi dan Seri Belajar AKM, sehingga sewaktu saya ditunjuk oleh Kepala Sekolah untuk mengikuti Webinar Guru Penggerak dan mendaftarkan diri saya sudah mengetahuinya terlebih dahulu Bahwa  di Akun SIM PKB saya sudah mendapat Undangan langsung dan dipanggil untuk mendaftarkan diri mengikuti Diklat Guru Penggerak Angkatan 2.

Sebelum saya  positif ikut mendaftar saya browsing di Google dan Youtube apa sich sebenarnya Program Guru Penggerak itu?

Melalui Video-video mas Menteri Pendidikan Nadiem Makarim yang begitu Tegas dan Bijaksana bilang " Jika Bapak/Ibu Guru adalah Orang-orang yang berdedikasi tinggi dan mau berjuang mengambil peran sebagai bagian transformasi pendidikan indonesia, Transformasi pendidikan yang berpihak pada murid dan pembelajaran yang memerdekakan. ayo gabung bersama kami di Program Guru Penggerak bersama membuat perubahan. Luar biasa mas menteri yang begitu menghargai tidak memandang Siapapun orangnya Tidak melihat Status Apakah Guru Honorer atau ASN tetapi diajak bergabung. Dan dari Video-video Kisah Cerita Calon Guru Penggerak Angkatan 1 saya menjadi Yakin dan memantapkan diri untuk mendaftar dan mengikuti rangkaian Tes yang diadakan oleh Kemendikbud.

Ternyata tidak mudah untuk Lolos dalam Tes sebelum dapat mengikuti Diklat 9 bulan ini. Ada banyak Hambatan dan Rintangan. Mulai dari rusaknya tombol Keyboard dan Laptop saya yang suka Eror serta Camera Laptop saya yang Mati serta jaringan Paket Data yang saya andalkan dari Hotspot HP Android saya yang Lemot.

Saya ingat betul waktu itu setelah saya mengikuti Webinar hari Jum'at diumumkan bahwa batas tanggal pendaftaran adalah hari Sabtu malam pukul 00.00. ( Tanggal 7 bulan November 2020). Pada hari Jum'at tanggal 6 November 2020 saya menghadap Ibu Kepala Sekolah untuk meminta Tanda Tangan Surat Dukungan dan Izin Kepala Sekolah  dan Surat Rekomendasi Calon  Guru Penggerak PGP Angkatan 2 untuk diUnggah sebagai Syarat pendaftaran di Akun SIM PKB. Walaupun Laptop saya rusak tetapi saya tetap mencoba ikut mendaftar dengan Meminta bantuan teman  saya yang kebetulan rumahnya berdekatan. Saya menumpang mendaftarkan diri melalui Laptop teman. Sekitar pukul 19.30 WIB saya ke rumah beliau. Bolak-balik saya ke rumah teman dan membawa Berkas-Berkas yang diperlukan untuk melengkapi Curriculum Vitae (step 1) dan melengkapi Essay (Step 2) sampai ke centang biru. Pertanyaan-pertanyaan di Essay tersebut Merefresh Otak saya untuk mengingat Masa Lalu selama saya bekerja sebagai Guru di Sekolah yang Lama. Tak tanggung-tanggung Pertanyaan yang lumayan sedikit tetapi beranak cucu itu sontak membuat saya berlatih untuk menulis lebih banyak karena kita dituntut untuk menulis sampai 2000 kata bahkan lebih. Jika tidak mencukupi maka soal essay tersebut tidak akan bisa kita selesaikan dan kirim. Tepat pukul 23.59 saya dapat menyelesaikan Essay dan pendaftaran Awal di rumah teman saya. Memang agak kurang sopan bertamu ke rumah teman sampai Larut malam. Tetapi karena saya begitu Antusias takut jika saya tidak menyelesaikan pendaftaran maka saya akan gugur jika tidak tepat waktu. Esok harinya saya membuka SIM PKB ternyata Jadwal Penutupan Pendaftaran Angkatan 2 diperpanjang 1 minggu lagi.. sontak saja saya tersenyum mengingat saya sampai larut malam bertamu ke rumah teman demi untuk menyelesaikan pendaftaran tersebut. 

Demi untuk mengikuti kelanjutan Tes tersebut makan saya mencoba membawa Laptop saya ke Service Laptop. Merogoh kocek yang tidak sedikit  hampir 1jt.karena selain menginstal dan memperbaiki Keyboard Laptop ada beberapa tombol huruf kadang tidak mau berfungsi Norma, membeli Kamera Luar dan Earphone gaming untuk zoom. 

Alhamdulillah Perangkat Perang saya sudah berjalan dengan Normal kembali. Berlanjut dengan Perangkat yang sudah diperbaiki sambil menunggu jadwal dan mengikuti Tes Bakat Skolastik/TBS (Step 3)  diawali dengan Subtes Verbal, Subtes Kuantitatif dan Subtes Penalaran dengan Maksimal waktu pengerjaan 85 menit. Tiba waktu TBS (Step 3), hari itu saya mengikuti dan mengerjakan test dengan semangat. Baru masuk di Subtes Verbal mengerjakan 5 soal tiba-tiba Soal di layar laptop berhenti tak mau lanjut. Saya mengira hal itu karena gangguan Sinyal. Sontak menjadikan saya panik. Akhirnya waktu pengerjaan subtes verbal berakhir dan berlanjut subtes kuantitatif dan Penalaran dengan Lancar. Dengan perasaan kecewa hari itu saya telah mengikuti Rangkaian Step 3. 

Beberapa minggu kemudian tibalah waktu pengumuman hasil seleksi tahap satu Calon Guru Penggerak Angkatan 2 Kabupaten Lahat. Tiba-tiba saya ditelepon teman tempat saya mendaftar tempohari. Dia mengucapkan Selamat katanya saya Lolos Tes Tahap satu Calon Guru Penggerak dan nama saya berbaris di antara nama teman-teman Lahat yang lolos juga. Rasa bahagia dan bingung apalagi yang mesti saya persiapkan. Dengan mengikuti panduan di SIM PKB ternyata untuk tahap dua saya disuruh mengupload RPP dilaman Guru Berbagi dan mempersiapkan diri untuk Simulasi mengajar di hadapan Asesor.

Rasa berkecamuk dalam hati sembari menyiapkan  RPP dan Alat peraga  untuk persiapan simulasi mengajar di hadapan Asesor. Alhamdulillah jadwal Simulasi mengajar saya mendapat sesi 3 yaitu dimulai pukul 13.30 jadi saya melaksanakan Simulasi mengajar di Sekolah tepatnya di Ruang Guru SDN 7 Lahat Selatan.

Alhamdulillah test Simulasi Mengajar berjalan dengan Lancar. 10 menit waktu yang diberikan untuk melihat kami mengajar mulai dari Pembukaan,  Kegiatan Inti dan Kegiatan penutup saya gunakan  cukup baik. 

Tahap selanjutnya kami menunggu jadwal ada satu tes lagi yang harus dilalui yaitu Wawancara selama 2 jam bersama dua orang Asesor penguji.

Tiba jadwal hari  saya tes Wawancara yaitu siang Hari di Rumah dengan Cuaca yang kondusif membuat wawancara yang selama 2 jam itu tak terasa lama. Saya mendapat Asesor satu orang Ibu dari Medan dan Seorang bapak dari Jakarta. Banyak pertanyaan yang menurut saya menjurus ke Hal Intern pekerjaan seorang Pemimpin dan menyangkut masalah manajemen. disitulah saya dengan gamblangnya bercerita dan seperti curhat karena memang saya sudah pernah berada di posisi seorang pemimpin dan membuat program-program yang sangat Luar biasa dampak terhadap murid. Yang paling saya ingat pesan Asesor di akhir wawancara yaitu mereka bilang bahwa saya itu Wanita Tangguh, Memiliki Motivasi dan semangat yang tinggi serta Kemauan untuk menjadi lebih baik dan Pesan Asesor jika Saya Lolos dalam Seleksi Calon Guru Penggerak jadikan Pengalaman Pahit yang Lalu Sebagai Obat penawar untuk Bangkit dan Berjuang Menjadi Seorang Pemimpin Masa Depan.

Setelah rangkaian Tes saya ikuti kembali ke rutinitas sehari-hari di Sekolah sambil menunggu pengumuman hasil seleksi tahap 2  dari Kemendikbud dan kebetulan di akhir Bulan  Maret 2021 itu SD kami menjadi Tuan Rumah kegiatan O2SN tingkat Kecamatan Lahat Selatan. Dengan disibukkan oleh kegiatan di Sekolah saya sampai tidak ingat bahwa sudah keluar Pengumuman Nama-nama yang Lulus sebagai Calon Guru Penggerak Angkatan 2 kab. Lahat. Betapa terkejutnya saya ternyata Nama-nama Guru yang awal pendaftaran saya lihat Ratusan menjadi hanya ada 15 guru yang Lulus se-kab lahat dan diantara 15 nama guru hanya 2 CGP yang saya kenal Yaitu Bu Titin Anggraini, S.Pd dari TK Pertiwi dan Pak Indra Gandi, M.Pd dari SDN 11 Merapi Barat dan satu nama seorang Pengajar Praktik yaitu Ibu Lolita Fitriani, MM.

Dua hari setelah pengumuman kelulusan saya masih sibuk menjadi Panitia kegiatan O2SN di sekolah. jadi saya tidak mengetahui bahwa Nama saya dicari-cari di Grup CGP Angkatan 2 Kab. Lahat. Entah kenapa hari itu saya menghubungi teman lama yang namanya saya kenal sejak zaman SMA dan bergabung di Grup Alumni SMA untuk bertanya mencari informasi apa kelanjutan setelah saya lulus di tahap 2.  Beliau inilah yang memberitahu bahwa saya sudah mendapat Kelompok dan Kelas. Beliau  adalah Pak Indra Gandi, M.Pd.

sahabat Putih Abu-Abu.


Mengenal LMS

Hari itu adalah webinar yang paling membuat saya terkesan karena  Mas Menteri Nadiem Makarim mengucapkan Selamat kepada kami yang telah lulus mengikuti rangkaian tes.  Beliau berkata ini bukanlah Akhir dari perjalanan tetapi ini adalah Tahap awal kami untuk mengikuti Diklat Pendidikan Calon Guru Penggerak  dan mendapat pembekalan sebelum memasuki Kelas Maya selama 9 bulan kedepan. Belum terbayang oleh saya Bagaimana Sistem Belajar Daring yang akan saya hadapi dan modul yang akan saya hadapi nanti. Setelah mendapat teman hebat satu kelompok yaitu bu Marleny, M.Pd  dari SMPN 2 Lahat Selatan, bu Maretha Ibratalia, S.Pd dari SMPN 1 Pulau Pinang dan Teman yang tak asing lagi saya lenal yaitu bu Titin Anggraini, S.Pd dari TK Pertiwi Lahat dan Seorang Pengajar Praktik yang akan datang melakukan pendampingan ke sekolah kami selama 9 bulan dari kota Lubuk Linggau yaitu Bapak Akmal Rijal,.M.Pd. satu lagi Fasilitator yang membantu kami mengupas materi di modul walaupun melalui tatap maya tetapi kami merasa bapak satu ini sangat dekat dengan kami Yaitu Bapak Kandung Supriyono, M.Pd dari Yogyakarta. Dan Instruktur -instruktur hebat yang membantu mengupas  materi Elaborasi Pemahaman kami pada setiap bagian modul. 

Rekan CGP, Pengajar Praktek, Fasilitator dan Instruktur-instruktur Hebat,.mereka ini yang menemani kami kurang lebih selama 9 bulan untuk bersama membuat perubahan dan menjadikan bagian dari Transformasi pendidikan Indonesia. Belajar dengan mengikuti Alur MERRDEKA (Mulai dari diri, Eksplorasi konsep, Ruang kolaborasi, Refleksi terbimbing, Demonstrasi kontekstual, Elaborasi pemahaman, Koneksi antar materi, Aksi nyata) pada LMS dan mengupas satu persatu isi modul 1-3 secara mandiri dan terbimbing. 


Modul 1.1

Di modul awal saya sudah disuguhkan mengenai Paradigma dan Visi guru penggerak. Modul 1.1 saya melakukan Refleksi Filosofi Ki Hadjar Dewantara mulai dari diri  Mengenal dan memahami apa makna dan tujuan dari filosofi Ki Hadjar Dewantara, Siapakah Ki Hadjar Dewantara yang dikenal sebagai Bapak Pendidikan Nasional. Melalui Video-video potret pendidikan Indonesia sejak zaman kolonial hingga kini. Disini saya menarik kesimpulan bahwa dasar - dasar pendidikan menurut Ki Hadjar Dewantara adalah menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Oleh sebab itu, pendidik itu hanya dapat  menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan  tumbuhnya kekuatan kodrat anak". Dalam menuntun laku dan pertumbuhan kodrat anak, KHD menggambarkan peran pendidik seperti seorang petani atau tukang kebun. Anak-anak itu seperti biji tumbuhan yang disemai dan ditanam oleh pak tani atau pak tukang kebun di lahan yang telah disediakan. Anak-anak itu bagaikan bulir-bulir jagung yang ditanam. Bila biji jagung ditempatkan di tanah yang subur dengan mendapatkan sinar matahari dan pengairan yang baik maka meskipun biji jagung adalah bibit jagung yang kurang baik (kurang berkualitas) dapat tumbuh dengan baik karena perhatian dan perawatan dari pak tani.  Demikian sebaliknya, meskipun biji jagung itu disemai adalah bibit berkualitas baik namun tumbuh di lahan yang gersang dan tidak mendapatkan pengairan dan cahaya matahari serta ‘tangan dingin’ pak tani, maka biji jagung itu mungkin tumbuh namun tidak akan optimal.


Dalam proses ‘menuntun’ anak diberi kebebasan namun pendidik sebagai ‘pamong’ dalam memberi tuntunan dan arahan agar anak tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya. Seorang ‘pamong’ dapat memberikan ‘tuntunan’ agar anak dapat menemukan kemerdekaannya dalam belajar.

KHD menjelaskan bahwa dasar Pendidikan anak berhubungan dengan kodrat alam dan kodrat zaman. Kodrat alam berkaitan dengan “sifat” dan “bentuk” lingkungan di mana anak berada, sedangkan kodrat zaman berkaitan dengan “isi” dan “irama”


KHD mengelaborasi Pendidikan terkait kodrat alam dan kodrat zaman sebagai berikut: 

“Dalam melakukan pembaharuan yang terpadu, hendaknya selalu diingat bahwa segala kepentingan anak-anak didik, baik mengenai hidup diri pribadinya maupun hidup kemasyarakatannya, jangan sampai meninggalkan segala kepentingan yang berhubungan dengan kodrat keadaan, baik pada alam maupun zaman. Sementara itu, segala bentuk, isi dan wirama (yakni cara mewujudkannya) hidup dan penghidupannya seperti demikian, hendaknya selalu disesuaikan dengan dasar-dasar dan asas-asas hidup kebangsaan yang bernilai dan tidak bertentangan dengan sifat-sifat kemanusiaan” (Ki Hadjar Dewantara, 2009, hal. 21)

KHD hendak mengingatkan pendidik bahwa pendidikan anak sejatinya melihat kodrat diri anak dengan selalu berhubungan dengan kodrat zaman. Bila melihat dari kodrat zaman saat ini, pendidikan global menekankan pada kemampuan anak untuk memiliki Keterampilan Abad 21 dengan melihat kodrat anak Indonesia sesungguhnya. KHD mengingatkan juga bahwa pengaruh dari luar tetap harus disaring dengan tetap mengutamakan kearifan lokal budaya Indonesia. Oleh sebab itu, isi dan irama yang dimaksudkan oleh KHD adalah muatan atau konten pengetahuan yang diadopsi sejatinya tidak bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan. KHD menegaskan juga bahwa didiklah anak-anak dengan cara yang sesuai dengan tuntutan alam dan zamannya sendiri.Untuk mewujudkan 6 Profil Pelajar Pancasila yang Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Berakhlak Mulia; Berkebhinekaan global; Gotong royong; Mandiri; Bernalar Kritis; dan Kreatif.

Yang paling berkesan dalam Modul 1.1 adalah ini pertama kalinya saya menerapkan merdeka belajar bagi diri sendiri karena disinilah pertama kalinya  membuat sebuah karya (video pendek, komik, lagu, puisi, poster, infografis dll) sebagai bentuk konkret pemahaman saya  terhadap pemikiran-pemikiran Ki Hadjar Dewantara.  Karya saya menjadi sebuah Tugas Demonstrasi Kontekstual  dan Aksi Nyata mengenai pemahaman  tentang pemikiran Ki Hadjar Dewantara sesuai dengan konteks kelas dan sekolah saya.

Saya ingat betul hari pertama Vicon dengan Fasilitator Bapak Kandung Supriyono yang begitu Piawai memimpin Kelas Daring, dengan sabar Beliau mengenalkan kami fitur-fitur Google. Jujur di Vicon pertama ini saya baru mengerti ada banyak fitur Google yang belum saya pahami. Dimana letak Drive, Slide, canva  dan teman-temannya serta apa fungsi mereka dibuat dan diciptakan oleh Google. padahal semua fitur tersebut sudah menemani bertahun-tahun di dalam HP Android saya. Belajar Membuat  dan mengedit rekaman Video menggunakan Aplikasi Kime master dan You Cut.


Modul 1.2. 

Modul ini diawali dengan membuat Trapesium Usia. Dimana saya Mengenang momen di masa sekolah, masa-masa indah suka duka semasa waktu kecil yang masih terngiang dan Hal Negatif yang saya alami sewaktu sekolah. Dengan Trapesium Usia saya mengidentifikasi Nilai dan Peran Guru Penggerak. Hal baik apa yang boleh kita lakukan kepada Siswa dan Hal buruk apa yang mesti kita hindari. Menurut saya hubungan antara Profil Pelajar Pancasila dengan Peran serta Nilai Guru Penggerak yaitu Guru Penggerak dengan perannya termasuk sebagai Pemimpin pembelajaran, menjadi coach guru lain, menggerakan komunitas, mendorong kolaborasi antara guru, mewujudkan kepemimpinan murid ( salah satu tugas adalah mewujudkan profil pelajar pancasila) , mendorong peningkatan prestasi akademik murid, mengajar dengan  kreatif,mengembangkan diri secara aktif, mendorong tumbuh kembang murid secara holistik,menjadi teladan dan agen transformasi bagi ekosistem pendidikan.  Dengan peran- Peran di atas Guru Penggerak seharusnya mampu mensukseskan program pendidikan belajar dan profil pelajar pancasila. peran guru penggerak  dalam mewujudkan kepemimpinan muridnya yaitu : Guru Penggerak aktif menanamkan profil pelajar pancasila terhadap peserta didiknya melalui mengintegrasikan karakter pelajar pancasila dalam pelatihan kepemimpinan siswa bisa melalui organisasi di sekolah seperti mengurus kelas atau menjadi Ketua Kelas, OSIS, PMR, Pramuka dan ekstrakurikuler lainnya.

Peran  dan Nilai Guru Penggerak diatas perlu mendapat dukungan dan kepedulian dari berbagai pihak, perlu mendapat semangat yang sama agar guru penggerak mampu secara optimal melaksanakan tugasnya. dan untuk mewujudkan semua itu, diperlukan komitmen, kesungguhan, sistem, dan implementasi nyata dari semua pihak, sehingga harapan tertanamnya profil pelajar pancasila dapat terwujud di sekolah tersebut dan secara umum program dari kementrian ini akan sukses dan melahirkan para  peserta didik yang benar -benar memiliki profil pancasila serta Guru Penggerak Indonesia akan terus Bergerak  memajukan Pendidikan di Indonesia. Akan tetapi jika ada rekan guru atau terutama sekali kepala sekolah yang kurang mendukung pada program ini maka saya sebagai Calon Guru Penggerak akan berusaha dengan penuh semangat memberikan penjelasan secara perlahan Tujuan dan Misi Mulia seorang Guru Penggerak. saya akan menjadi coach bagi teman sejawat dengan melakukan koordinasi serta komunikasi yang baik kepada Pimpinan saya melalui rapat kecil dan musyawarah ringan. saya akan memulainya juga terhadap Siswa dan memberikan Aksi Nyata melalui Kelas dahulu yaitu menciptakan murid-murid yang berjiwa pemimpin, unggul dalam pengetahuan Akademik dan memiliki keterampilan yang Nyata sehingga melahirkan Profil Pelajar Pancasila.



Modul 1.3

Modul ini membuat Visi Guru Penggerak. Disini saya belajar bermimpi menginginkan memiliki siswa Impian yang seperti Apa dan membayangkan tanggung jawab kita sebagai seorang guru, terlebih dengan peran sebagai guru penggerak. Menjadi guru bukan hanya mendidik dan bukan sekedar pekerjaan administrasi. Target pekerjaan kita bukan sebuah dokumen kertas saja. Mendidik juga tidak hanya berbicara tentang waktu sekarang. Sasaran pekerjaan kita adalah seorang manusia. Target pekerjaan kita adalah pertumbuhan seorang manusia. Sedangkan, hasil pekerjaan kita baru akan terlihat saat manusia ini berkarya di masa depan nanti. Oleh karena itu, memiliki visi tentang pertumbuhan murid menjadi hal yang sangat penting bagi seorang guru.

guru, mendidik bukan sekedar pekerjaan administrasi. Target pekerjaan kita bukan sebuah dokumen kertas saja. Mendidik juga tidak hanya berbicara tentang waktu sekarang. Sasaran pekerjaan kita adalah seorang manusia. Target pekerjaan kita adalah pertumbuhan seorang manusia. Sedangkan, hasil pekerjaan kita baru akan terlihat saat manusia ini berkarya di masa depan nanti. Oleh karena itu, memiliki visi tentang pertumbuhan murid menjadi hal yang sangat penting bagi seorang guru

Untuk dapat mewujudkan visi sekolah dan melakukan proses perubahan, maka perlu sebuah pendekatan atau paradigma. Pendekatan ini dipakai sebagai alat untuk mencapai tujuan. Jika diibaratkan seperti seorang pelari yang memiliki tujuan mencapai garis “finish”, maka ia butuh peralatan yang mendukung selama berlatih seperti alat olahraga. Dalam pembelajaran kali ini, kita akan mengeksplorasi paradigma yang disebut Inkuiri Apresiatif (IA). IA dikenal sebagai pendekatan manajemen perubahan yang kolaboratif dan berbasis kekuatan. Konsep IA ini pertama kali dikembangkan oleh David Cooperrider (Noble & McGrath, 2016).Kita akan memakai pendekatan IA sebagai ‘alat olahraga’ untuk kita berlari mencapai garis “finish” kita yaitu visi yang kita impikan.

Di sekolah, pendekatan IA dapat dimulai dengan mengidentifikasi hal baik apa yang telah ada di sekolah, mencari cara bagaimana hal tersebut dapat dipertahankan, dan memunculkan strategi untuk mewujudkan perubahan ke arah lebih baik. Nantinya, kelemahan, kekurangan, dan ketiadaan menjadi tidak relevan. Berpijak dari hal positif yang telah ada, sekolah kemudian menyelaraskan kekuatan tersebut dengan visi sekolah dan visi setiap warga sekolah.

Dalam modul 1.3 saya mempelajari IA lebih dalam sebagai salah satu model manajemen perubahan di sekolah dan mencoba menerapkannya melalui tahapan dalam IA yang di dalam bahasa Indonesia disebut dengan BAGJA (Buat Pertanyaan, Ambil Pelajaran, Gali Mimpi, Jabarkan Rencana, Atur Eksekusi).

Berdasarkan tahapan BAGJA. Tahap pertama, Buat Pertanyaan Utama. Di tahap ini, Anda merumuskan pertanyaan sebagai penentu arah penelusuran terkait perubahan apa yang diinginkan atau diimpikan. Tahap kedua, Ambil Pelajaran. Pada tahapan ini, Anda mengumpulkan berbagai pengalaman positif yang telah dicapai di sekolah dan pelajaran apa yang dapat diambil dari hal-hal positif tersebut. Tahap ketiga, Gali Mimpi. Pada tahapan ini, Anda dapat menyusun narasi tentang kondisi ideal apa yang diimpikan dan diharapkan terjadi di sekolah. Disinilah visi benar-benar dirumuskan dengan jelas. Tahap ketiga, Jabarkan Rencana. Di tahapan ini, Anda dapat merumuskan rencana tindakan tentang hal-hal penting apa yang perlu dilakukan untuk mewujudkan visi. Tahapan terakhir, Atur Eksekusi. 

Di bagian ini, Anda memutuskan langkah-langkah yang akan diambil, siapa yang akan terlibat, bagaimana strateginya, dan aksi lainnya demi mewujudkan visi perlahan-lahan.

Pada modul 1.3 ini hal yang paling berkesan yaitu pada saat kegiatan Lokakarya 3. Saya bersama Kepala Sekolah telah membuat Visi sekolah dan Rencana Program Sekolah yang berpihak pada murid


Modul 1.4

Modul ini membahas Budaya Positif di sekolah. Dimana saya melihat ada banyak vidio-vidio yang sangat menampar saya sebagai seorang pendidik karena disinilah saya menyadari berada dimanakah posisi saya dilihat dari kontrol guru dan saya dapat melihat perbedaan antara Disiplin dan Hukuman. Selama ini saya seringkali memandang bahwa hukuman adalah bentuk yang sama dengan proses pen-disiplin-an dan memberikan hukuman sebagai salah satu langkah dalam proses disiplin murid. Padahal, disiplin dan hukuman memiliki arti yang berbeda dan memberikan efek yang sangat berbeda dalam pembentukan diri.


Lalu saya  menyimpan pertanyaan,  “jika tidak ada hukuman, maka  bagaimana menghadapi murid yang melakukan pelanggaran atau kesalahan?”  Mari kita menyamakan persepsi bahwa pelanggaran atau kesalahan adalah kesempatan anak untuk belajar. Jika ditangani dengan tepat, kesalahan dapat menjadi momen yang baik agar anak mengetahui hal tersebut sebaiknya tidak dilakukan lagi di masa mendatang. Anak juga akan lebih bertanggung jawab serta mengetahui bagaimana memperbaiki situasi yang dihadapinya. Menurut Nelsen (2021), berikut adalah cara kita merespon kesalahan agar menjadi pembelajaran yang baik bagi anak.

  1. Merespon kesalahan dengan kasih sayang dan kebaikan dibanding menyalahkan, menuduh dan menceramahi.

  2. Berikan pertanyaan yang bisa menimbulkan diskusi tentang konsekuensi yang mungkin terjadi dari tindakannya.

  3. Melihat kesempatan terjadinya kesalahan untuk didiskusikan bersama anak atau dengan teman-teman lain.

Jika diperhatikan dengan seksama, ketiga cara diatas lebih mengedepankan konsekuensi dari pada hukuman. Mengapa konsekuensi lebih dipilih untuk mewujudkan budaya positif dibanding hukuman? Hukuman bersifat satu arah dari guru ke murid dan seringkali tidak berhubungan dengan kesalahan murid. Sedangkan menurut Nelsen (2021), prinsip konsekuensi fokus pada masalah dan solusi sehingga konsekuensi berhubungan dengan perilaku, penuh hormat kepada murid, bersifat masuk akal dan bertujuan untuk membantu murid.

Pembelajaran di masa Covid-19 ini sekolah saya masih banyak menghadapi kendala pada saat Kegiatan Belajar Mengajar berlangsung. Sistem pembelajaran pada saat pandemi ini di kelas saya menggunakan Sistem Pembelajaran Daring. Dimana saya dan siswa bertatap maya menggunakan Aplikasi Google meet dan Group Whatsapp. Kebosanan Siswa belajar Daring terlihat nyata dari jumlah murid yang mengumpulkan tugas dan ikut zoom. Beberapa kendala yang dihadapi yaitu salah satunya masih mengenai Siswa yang belum memiliki Perangkat HP dan Kuota internet. Solusi belajar yang saya tempuh yaitu  Alhamdulillah Sekolah mengambil kebijakan bagi siswa untuk datang ke sekolah mengumpulkan Tugas dan Mengambil Tugas dari guru dengan sistem Kelas yang hadir bergantian. Satu minggu anak-anak kebagian datang satu kali. 

Melalui pembelajaran Daring saya dan Siswa membuat kesepakatan kelas bersama-sama sebagai bentuk Budaya Positif yang saya ajarkan kepada anak-anak, lalu supaya anak-anak tidak merasa Jenuh belajar Online setiap hari maka saya setiap Akhir Sub Tema pembelajaran membuatkan anak-anak sebuah GAME pembelajaran menggunakan Aplikasi Word Wall lalu membagikan Link permainan tersebut melalui grup Whatsapp. Disini saya dapat memantau kegiatan siswa yang belajar dari rumah. Mereka tanpa sadar sudah saya berikan kebebasan dalam belajar melalui sebuah permainan Game yang mereka mainkan. Siswa telah belajar menjawab soal-soal yang saya jadikan sebuah Game Permainan yang menarik pada setiap Akhir Materi Sub Tema.

Sebagai  penerapan Budaya Positif di sekolah saya masuk ke dalam Komunitas Praktisi sekolah dimana secara  bertahap mengajak rekan sejawat untuk sharing di dalam komunitas praktisi sekolah dan memecahkan masalah pembelajaran yang dihadapi serta menerapkan disiplin positif.

Disiplin positif adalah sebuah model disiplin yang difokuskan pada perilaku positif murid agar menjadi pribadi yang penuh hormat dan bertanggung (Nelsen, Lott & Glenn, 2000). Disiplin positif mengajarkan keterampilan sosial dan emosional dan keterampilan kehidupan yang penting dengan cara penuh hormat  dan membesarkan hati tidak hanya bagi murid tetapi juga bagi orang dewasa (termasuk orangtua, guru, staf administrasi dan lainnya). Kebalikan dari disiplin positif adalah disiplin negatif yang berfokus pada hukuman. Disiplin negatif cenderung menghambat perkembangan sosial, emosional dan keterampilan hidup murid. Dengan disiplin positif, guru diharapkan dapat mewujudkan budaya positif baik di kelas maupun sekolah.


Modul 2.1

Pada modul kali ini saya telah diajak langsung masuk ke dalam kelas. Bagaimana Memenuhi Kebutuhan Belajar Murid Melalui Pembelajaran Berdiferensiasi. Dimana sebagai seorang pendidik sebelum mengajar dituntut untuk membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran  (RPP). Selama ini saya membuat RPP sesuai dengan Silabus, prosem dan prota sesuai dengan kurikulum 2013 yang telah diadopsi oleh Sekolah kami. Tetapi di modul ini saya belajar sebelum membuat RPP ternyata ada yang harus pendidik lakukan yaitu mempertimbangkan bagaimana cara saya mengelola kelas untuk memenuhi kebutuhan murid secara individu?

Apa yang saya ketahui tentang latar belakang murid saya, pembelajaran sebelumnya, dan perkembangan keterampilan mereka?

Apa yang saya ketahui tentang minat murid saya (di sekolah dan di luar), motivator, dan tujuan mereka?

Apa yang saya ketahui tentang profil belajar murid saya? Apa gaya belajar yang disukai oleh mereka? 

Bagaimana saya bisa menggunakan informasi tentang minat, kesiapan dan profil belajar murid saya untuk membantu saya merancang dan melaksanakan pembelajaran secara efektif?

Semua ini tidak pernah saya pikirkan Bagaimanakah karakteristik setiap anak di kelas saya? apa kekuatan mereka? Bagaimana gaya belajar mereka? Apa minat mereka? Siapakah yang memiliki keterampilan menghitung paling baik di kelas saya? Siapakah yang sebaliknya? Siapakah yang paling menyukai kegiatan kelompok? Siapakah yang justru selalu menghindar saat bekerja kelompok? Siapakah yang level membacanya paling tinggi? Siapakah murid yang masih perlu dibantu untuk meningkatkan keterampilan memahami bacaan mereka? Siapakah yang paling senang menulis? Siapakah yang lebih senang berbicara?

Disini seharusnya seorang guru melakukan Pemetaan Kebutuhan murid. Tomlinson (2001) dalam bukunya yang berjudul How to Differentiate Instruction in Mixed Ability Classroom menyampaikan bahwa kita dapat mengkategorikan kebutuhan belajar murid, paling tidak berdasarkan 3 aspek. 

Ketiga aspek tersebut adalah:

  1. Kesiapan belajar (readiness) murid

  2. Minat murid

  3. Profil belajar murid

Sebagai guru, kita semua tentu tahu bahwa murid akan menunjukkan kinerja yang lebih baik jika tugas-tugas yang diberikan sesuai dengan keterampilan dan pemahaman yang mereka miliki sebelumnya (kesiapan belajar). Lalu jika tugas-tugas tersebut memicu keingintahuan atau hasrat dalam diri seorang murid (minat), dan jika tugas itu memberikan kesempatan bagi mereka untuk bekerja dengan cara yang mereka sukai (profil belajar).

Jadi setelah mempelajari modul ini saya menyadari betapa pentingnya memetakan kebutuhan belajar anak (Berdiferensiasi) sesuai dengan aspek yang anak miliki. Untuk tugas Aksi nyata modul ini saya telah membuat sebuah RPP Berdiferensiasi dan menerapkannya Pembelajaran berdiferensiasi melalui Pembelajaran Daring. Saya mendiferensiasi Kegiatan Pembelajaran melalui Konten penyampaian materi, saya mendiferensiasi Proses Kegiatan Belajar Mengajar dan mendiferensiasi Produk yang akan siswa hasilkan itu saya beri keluasan anak untuk merdeka dalam menentukan cara mengerjakan tugasnya. pembelajaran ini saya terapkan pembelajaran ini  dengan siswa kelas 5. Alhamdulillah minat belajar anak ada meningkat, antusias belajar dan mengerjakan tugas meningkat. Terlihat kebahagiaan dan semangat siswa dalam mengerjakan tugas yang guru berikan walaupun sekolah masih dalam suasana pandemi covid-19.


Modul 2.2

Ini  adalah modul yang paling saya senangi karena disini saya mempelajari tentang bagaimana cara mengendalikan Sosial Emosional diri sendiri melalui Pembelajaran Sosial dan Emosional. Setelah belajar mengenai mendiferensiasi konten/ proses pembelajaran melalui RPP berdiferensiasi disini saya mengetahui cara menyusun teknik-teknik yang dapat digunakan untuk menerapkan pembelajaran  kompetensi sosial-emosional  (KSE) berbasis kesadaran penuh pada mata pelajaran di kelas.

Ada banyak kasus-kasus yang dihadirkan kepada saya untuk direfleksi bagaimana cara mengatasi jika saya berada dalam kasus tersebut. 

Satu lagi ilmu yang saya dapatkan disini yaitu menggunakan Teknik STOP  dan mencoba menerapkannya bersama teman-teman CGP saat vicon dengan Fasilitaror, menerapkannya bersama Instruktur pada saat Elaborasi pemahaman, menerapkannya bersama pada saat kegiatan Lokakarya 4 dan saya menerapkannya di kelas bersama anak didik saya.


Modul 2.3

Ini adalah modul yang membuat saya harus lebih berani yaitu Coaching karena disini saya diajarkan bagaimana menjadi seorang Coach yang baik bagi rekan sejawat dan anak didik. Selama ini saya salah persepsi memahami  apa itu Coach, Coachee dan Coaching. 

Disini baru saya mengerti bahwa Coach itu adalah seseorang yang menggali Potensi yang ada pada diri Coachee tanpa memberikan Jawaban atau Solusi yang dihadapi oleh Coachee. Biarkan Coachee itu menemukan sendiri solusi dari apa yang dihadapinya. Coaching itu adalah Proses terjadinya kegiatan antara Coach dan Coachee. 

Dalam melaksanakan Proses Coaching kita diajarkan menggunakan model TIRTA yaitu T= Tujuan

I = Identifikasi masalah

R = Rencana Aksi

TA=Tanggung jawab


Tugas pada modul 2.3 saya berlatih menjadi Coach bersama teman-teman CGP satu kelompok melalui Vicon bagaimana cara mengatasi masalah dari sebuah kasus yang dihadapi. Kita bergantian mengambil peran dan berkolaborasi memecahkan kasus tersebut.

Di lingkungan sekolah saya menerapkan bagaimana menjadi seorang Coach yang baik dengan panduan model TIRTA dan saya menerapkannya dengan Rekan sejawat di komunitas praktisi dan melakukan Proses Coaching didepan Pengajar Praktik pada saat pendampingan ke 4 di sekolah dan pada saat kegiatan Lokakarya 5.


Modul 3.1

Ini adalah paket modul yang paling berat bagi saya karena berhubungan dengan Memimpin Manajemen Sekolah. Pada modul 3.1 yaitu Bagaimana cara  Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran. Modul ini adalah Modul Sinetron karena ada banyak video-video tentang kasus yang sedang dihadapi para pemain sinetron dan harus dipecahkan oleh CGP mengenai Dilema Etika dan Bujukan Moral yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Hal yang paling menarik yaitu disini saya memahami bagaimana cara  menjadi seorang pemimpin pembelajaran yang baik dalam mengambil sebuah keputusan.

Dengan melihat empat Paradigma yaitu: 

  1. individu lawan masyarakat

  2. rasa keadilan lawan rasa kasihan

  3. kebenaran lawan kesetiaan

  4. jangka pendek lawan jangka panjang


3 Prinsip pengambilan keputusan yaitu:

  1. Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking)

  2. Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking)

  3. Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)



9 Langkah pengambilan keputusan yaitu :

  1. Mengenali bahwa ada nilai-nilai yang saling bertentangan dalam situasi ini.

  2. Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini.

  3. Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini.

  4. Pengujian benar atau salah ( Uji Legal, uJI regulasi/Standar Profesional, Uji Intuisi,  Uji Halaman Depan Koran, Uji Panutan/Idola).

  1. Pengujian Paradigma Benar lawan Benar.

  2. Melakukan Prinsip Resolusi

  3. Investigasi Opsi Trilemma

  4. Buat Keputusan

  5. Lihat lagi Keputusan dan Refleksikan


Hal yang paling berkesan dari modul ini yaitu menulis dan membuat sebuah Blog Artikel . Suatu hal yang kelihatan gampang tetapi butuh berfikir bagaimana cara menulis. Melalui Blog inilah saya mencoba berbagi tulisan Artikel dan Aksi Nyata selama mengikuti Program Guru Penggerak. 


Modul 3.2

Pemimpin dalam Mengelola Sumber Daya inilah yang akan dibahas dalam modul 3.2. Suatu Rencana Program Sekolah yang akan dilaksanakan kita selalu mengadakan Rapat dengan warga sekolah. Setiap warga sekolah memiliki tanggung jawab yang sama untuk memajukan sekolah, menjaga hubungan harmonis, dan memajukan kesuksesan suatu program yang akan dan sedang dilakukan. Guru harus menjaga hubungan harmonis dengan guru lain, dengan kepala sekolah, dengan tenaga kependidikan, dengan seluruh pemangku kepentingan yang terlibat menjaga keharmonisan dengan muridnya dan begitu pun sebaliknya.

Dalam mengelola sumber daya yang dimiliki selama ini kita lebih cenderung dan lebih sering berfokus pada kekurangan, masalah, dan keinginan sangat jarang melihat dari sisi kekuatan yang dimiliki. Dalam menghadapi masalah pun di sekolah lebih mengacu pada masalah utama tidak membayangkan bagaimana masa depan nantii bahkan kita pun sering disibukkan dengan mencari bantuan dan pendukung ketika kita dihadapkan dengan suatu kondisi yang tidak enak atau terpojok. Sangat jarang berusaha untuk mencoba menggali potensi dan kekuatan sendiri yang dimiliki untuk menghadapi kondisi yang tidak nyaman. Berusaha mandiri untuk memaksimalkan kekuatan yang dimiliki untuk mengubah keterpojokan dan ketidaknyaman menjadi yang aman, damai, dan kondusif. Jadi selama ini yang kita lakukan belum mengarah pada melakukan sebuah upaya dengan menggunakan Pendekatan Pengembangan Komunitas Berbasis Aset. Sehingga setiap Rencana program yang akan dilaksanakan pasti tidak akan berjalan dengan baik terkadang cenderung tidak berhasil.

Adapun cara menyusun sebuah program dengan menjadikan ketujuh modal (Aset) yang dimiliki sekolah sebagai kekuatan untuk mendukung Program Sekolah lalu menggunakan Tahapan BAGJA. 

Hal yang menarik pada modul ini yaitu saya setelah saya menggali Aset atau potensi yang dimiliki SDN 7 Lahat selatan lalu saya berkolaborasi dengan Kepala sekolah dan rekan sejawat untuk membuat sebuah program yang berdasarkan dengan Profil Pelajar Pancasila. 




Modul 3.3.

Ini adalah materi terakhir dalam modul kita, Pengelolaan Program Berdampak pada Murid. Modul ini berisi vidio-vidio contoh Program yang berfokus pada kepemimpinan murid dimana siswa dan guru bersama-sama mewujudkan kelas impian mereka, lalu contoh kepemimpin /kepala.sekolah yang sukses menjalankan program yang inovatif, contoh program sekolah adiwiyata, contoh sekolah alam dan ada sebuah contoh program yang melibatkan peran masyarakat. Setelah seorang pemimpin pembelajaran dapat memetakan Aset /kekuatan yang dimiliki sekolahnya dan menyusun sebuah Program menggunakan Tahapan BAGJA maka tak lupa agar program tersebut dapat berjalan dengan baik dan berkesinambungan maka dilakukan Pengelolaan Program Yang Berdampak Pada Murid dengan cara Melakukan perencanaan program sampai evaluasi dengan menggunakan strategi MELR (Monitoring, Evaluaasi, Learning dan Reporting)

Kegiatan ME dimana monitoring adalah kegiatan yang dilakukan dengan introspeksi dan evaluasi adalah kegiatan ekstropeksi. Terdapat 12 prinsip menjadi acuan atau pedoman pada kegiatan ini, yaitu 

  1. mengapa perlu melakukan ME

  2. Menyetujui prinsip yang menjadi pedoman;

  3. menentukan program yang perlu dimonitor;

  4. menentukan siapa saja yang terlibat;

  5. menentukan topik dan pertanyaan investigasi;

  6. mengklarifikasi sasaran, tujuan, aktivitas dan langkah untuk berubah

  7. mengidentifikasi informasi;

  8. memutuskan bagaimana informasi diperoleh;

  9. menilai kontribusi/ pengaruh yang diberikan;

  10. menganalisis dan menggunakan informasi;

  11. menjelaskan data;

  12. etika memproteksi data.


Lalu Kegiatan pembelajaran (Learning) melalui empat tingkat model F yaitu:

  1. Fact  (Fakta )

  2. Feeling (Perasaan)

  3. Finding (Temuan)

  4. Future (Masa Depan)

Dan Kegiatan laporan (Reporting) adalah pesan yang disampaikan secara sistematis dan objektif yang digunakan untuk menyampaikan informasi.


Sejauh ini sampai saya menuliskan Artikel ini perjalanan Sang Penggerak masih sangatlah panjang. Kita sesama CGP berbagi cerita dan saling menguatkan sampai hari ini baru menjalani Lokakarya ke-6. Menurut saya ini baru cerita di Akhir Modul dan  Awal buat melangkah menjadi Seorang Pemimpin Pembelajaran yang berpihak pada murid.

Banyak suka duka saya lalui sampai bulan keenam dan jika dituliskan dalam Artikel ini pasti akan berurai air mata. Biarlah kisah sedih yang saya jalani saya tuliskan direlung hati yang paling dalam dan akan saya simpan sebagai Pedoman dan jadi Motivasi untuk terus melangkah maju. 

Demikian Artikel ini saya buat untuk dikenang dan semoga dapat bermanfaat bagi  pembaca dan diambil pelajarannya.

Wassalamualaikum wr.wb.

Salam Guru Penggerak Angkatan 2 Kabupaten Lahat Provinsi Sumatera Selatan.










Komentar

Postingan populer dari blog ini

Koneksi Antar Materi_Pendidikan yang Memerdekakan_CPP A10-SUM-SEL

2.1.a.9- KONEKSI ANTAR MATERI-PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI