PGP-Angk2-Kabupaten Lahat-Merliana,S.Pd-1.4-Aksi Nyata
PGP-Angk2-Kabupaten Lahat-Merliana,S.Pd-1.4-Aksi Nyata
MENERAPKAN
BUDAYA POSITIF MELALUI KESEPAKATAN KELAS
DI SDN 7 LAHAT
SELATAN
A.
LATAR BELAKANG
Proses
pembentukan karakter di awali dengan pembiasaan. Proses pembiasaan inilah yang
kita kenal dengan budaya atau membudaya. Maka, dalam rangka membentuk karakter
yang diinginkan, perlu di bangun budaya positif dilingkungan baik di sekolah
maupun di rumah. Jadi budaya positif adalah kebiasaan positif yang sudah membudaya.
Dan apabila budaya positif sudah tercipta maka nilai-nilai karakter yang
diharapkan akan terbentuk dan tertanam.
Sejak
pandemi Covid-19 yang melanda berbagai negara dibelahan
dunia termasuk Indonesia akan berdampak pada berbagai sektor kehidupan salah
satunya adalah bidang pendidikan. Pemerintah mengeluarkan berbagai
kebijakan untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19, termasuk
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang mengeluarkan kebijakan mengganti
proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dengan menggunakan sistem dalam
jaringan (daring) untuk melakukan pembatasan interaksi
sosial di lingkungan sekolah. Dengan adanya kebijakan tersebut maka guru
dituntut untuk melakukan pembelajaran jarak jauh secara daring dengan
memanfaatkan berbagai media online penunjang sebagai
pengganti pembelajaran di kelas secara langsung, tanpa mengurangi kualitas
materi pembelajaran dan target pencapaian dalam pembelajaran. Lalu
bagaimana penerapaan budaya positif agar dapat terbentuk dengan baik di
lingkungan kelas daring?
Penting
bagi guru untuk memahami bagaimana guru harus memposisikan diri saat berhadapan
dengan murid. Dalam komponen kelas daring, posisi guru dapat dikatakan sebagai
penggerak utama. Hal ini mewujudkan juga adanya kontrol guru dalam proses
belajar mengajar. Guru sudah memposisikan diri sebagai manajer yang
meningkatkan motivasi intrinsik murid untuk berkembang dan memberikan dampak
positif bagi siswa untuk belajar disiplin dalam diri. Salah satunya dengan peserta didik
membuat kesepakatan kelas.
Kesepakatan
kelas dibuat dengan cara berdiskusi bersama peserta didik tentang
kelas impian mereka, harapan dan gali mimpi yang akan dicapai menggunakan beberapa kata – kata positif, sehingga peserta
didik dapat memahami perilaku apa yang diharapkan dari kesepakatan kelas.
Kesepakatan yang disusun mudah dipahami dan dapat langsung dilakukan. Untuk
mempermudah pemahaman murid, kesepakatan dapat ditulis, dijadikan poster
menggunakan aplikasi Canva, atau disusun sedemikian rupa sehingga dapat
dipahami dan dilihat oleh peserta didik.
Kesepakatan
kelas yang efektif dapat membantu dalam
pembentukan budaya positif peserta didik karena peserta didik yang membuat
kesepakatan itu sendiri, sehingga membuat peserta didik lebih termotivasi untuk
mewujudkan. Kesepakatan kelas ini akan membuat mereka lebih termotivasi.
Kesepakatan kelas juga bisa bertujuan
supaya peserta didik lebih percaya diri. Karena ketika anak bisa mengikuti
kesepakatan yang telah dibuatnya bersama, maka ia akan merasa berhasil. Di
situlah cikal bakal kepercayaan dirinya tumbuh. Selain itu, kesepakatan diri
juga dapat membantu proses belajar mengajar yang lebih mudah dan tidak menekan.
Berdasarkan latar belakang di atas, kita memerlukan Inkuiri apresiatif sebagai sebuah pendekatan kolaboratif untuk mengetahui kondisi lingkungan belajar dalam mengembangkan perilaku suatu peserta didik melalui pengajuan pertanyaan yang tersusun dalam tahapan BAGJA dan dijalankan dalam suasana yang positif dan apresiatif. Tahapan-tahapan BAGJA :
A. B-uat Pertanyaan (Define)
1. Kelas seperti apa yang kalian inginkan?
2. Apa yang paling menyenangkan dalam proses belajar daring?
3. Apakah peserta didik senang belajar daring bersama bu guru?
4. Apakah peserta didik kesulitan dalam mengikuti belajar daring?
5. Bagaimana dengan orang tua, apakah membantu kalian dalam belajar selama daring ? Coba Ceritakan !
6. Bagaimana cara ingin bertanya dan menjawab di dalam Google meet?
7. Apa kendala tentang permasalahan yang kalian hadapi selama belajar daring
B. A-mbil Pelajaran (Discover)
1. Pandemi ini mengajarkan peserta didik dan guru meningkatkan kemampuan dibidang IT.
2. Pembelajaran digitalisasi memberikan waktu belajar yang lebih fleksibel.
3. Masa pandemi kita diajarkan tidak boleh bersentuhan secara langsung dan harus menjaga jarak.
4. Dengan membuat kesepakatan kelas melatih peserta didik akan lebih bertanggung jawab, Disiplin, konsisten, tertib serta kepedulian mereka.
C. G-ali Mimpi (Dream)
1. Bagaimana upaya kita untuk mewujudkan kelas yang efektif ?
2. Bagaimana melatih kemandirian dalam belajar daring?
3. Bagaimana mengumpulkan tugas tepat waktu?
4. Bagaimana membantu teman yang kesulitan dalam menginstal Aplikasi Google meet dan mengikuti pelajaran Daring?
5. Sumber belajar apa yang tersedia dalam belajar Daring?
D. J-abarkan Rencana (Design)
1. Apa yang harus dikerjakan dalam tugas Daring nantinya?
2. Siapa yang membuat poster kesepakatan kelas?
3. Apakah setiap guru dan siswa memiliki Laptop/Hp serta Kuota Internet dalam belajar Daring?
4. Apakah seluruh siswa mendukung kesepakatan kelas yang akan dibuat?
5. Apakah langkah invite untuk mendukung kesepakatan kelas dan budaya positif di kelas Daring?
E. A-tur Eksekusi (Deliver)
1. Siapa yang terlibat dalam membuat kesepakatan kelas ini?
2. Bagaimana cara guru mengkomunikasikan atau melaporkan hasil observasi terhadap murid?
3. Siapa yang bertanggung jawab dalam Kesepakatan kelas jika ada yang tidak mematuhi?
B. DESKRIPSI AKSI NYATA
Tujuan
1.
Kesepakatan bersama
menjadi panduan kegiatan yang harus dilakukan anak setiap hari
2.
Melatih anak agar
memiliki sikap disiplin sejak dini
3.
Melatih anak agar
memiliki rasa tanggung jawab
4.
Menumbuhkan sikap
peduli
5.
Belajar lebih
konsisten dan tertib
6.
Mengajarkan
kejujuran
Tolok ukur
1.
Siswa mampu menerima
kesepakatan yang telah dibuat bersama
2.
Siswa mampu
melaksanakan kegiatan sesuai kesepakatan bersama secara konsisten
Linimasa Tindakan
1.
Berdiskusi membuat
kesepakatan bersama melalui google meet
2.
Menuliskan hasil
kesepakatan bersama di Google Doc
3.
Membuat Poster
Kesepakatan Kelas Menggunakan Aplikasi Canva
4.
Menyampaikan hasil
kesepakatan bersama kepada orang tua siswa melalui WA grup
5.
Siswa
mendokumentasikan kegiatan di rumah sesuai kesepakatan bersama
Dalam
membuat kesepakatan kelas, tindakan guru kepada siswa adalah sebagai
fasilitator, yaitu mengarahkan siswa untuk menuangkan idenya tentang hal positif
yang akan dijadikan kesepakatan, selain itu guru juga harus dapat menjadi
teladan dalam pembentukan budaya positif tersebut.
C. ALASAN MELAKUKAN AKSI NYATA
Motivasi yang mampu diberikan oleh guru
adalah motivasi yang bersifat ekstrinsik namun bukan tidak mungkin motivasi
yang bersifat ekstrinsik tersebut diakumulasi oleh siswa menjadi suatu bentuk
motivasi yang bersifat intrinsik. Dalam menumbuhkan disiplin pada diri murid secara intrinstik, guru
perlu berperan pada posisi kontrol manajer yang bertanya dan membuat
kesepakatan kelas bila murid melakukan kesalahan atau pelanggaran, bukan
menuduh, memberi hukuman atau sebagai teman yang membiarkan murid melakukan
kesalahan atau pelanggaran. Hal ini dilakukan karena pendidik sebagai pamong
yaitu “menuntun” atau memberikan ‘tuntunan’ agar anak dapat menemukan
kemerdekaannya dalam belajar. Anak diberi kebebasan, namun perlu diberi
tuntunan dan arahan agar anak tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya.
Oleh karena itu, pada kesehariannya, pamong juga berperan sebagai pengontrol
untuk mengingatkan murid jika berada dalam bahaya. Pada kesempatan lain, guru
juga dapat berperan sebagai teman ketika berinteraksi agar dapat memahami murid
dan membangun kedekatan.
Akumulasi dari perkataan-perkataan positif yang ditulis pada kesepakatan kelas peserta didik dijadikan poster dan dikirim ke Watshapp sehingga dapat dibaca peserta didik dan membuat mindset berpikirnya menjadi lebih positif sehingga menjadikan mereka lebih bertanggung jawab akan tugas-tugas yang harus dikerjakan.
D. HASIL AKSI NYATA YANG DILAKUKAN
Setelah
kesepakatan kelas dibuat, respon yang diberikan siswa adalah :
1.
Siswa lebih antusias
mengikuti aturan yang mereka buat sendiri.
2.
Siswa memiliki sikap
saling menghargai
3.
Siswa saling
membantu jika ada teman yang mengalami kesulitan
4.
Kesepakatan yang
telah dibuat bersama menjadi acuan untuk menerapkan disiplin
E. PEMBELAJARAN YANG DIDAPAT DAN PELAKSANAAN
Keberhasilan
yang didapat dari pembuatan kesepakatan kelas ini adalah siswa dengan kesadaran
diri dan bertanggung jawab melaksanakan kegiatan yang telah disepakati.
Selanjutnya juga tumbuh sikap saling menghargai dan kerjasama antar siswa dalam
membuat kesepakatan kelas dan dari hasil kesepakatan kelas yang dibuat bersama,
siswa saling membantu teman jika ada yang kesulitan dalam mengerjakan tugas.
Sedangkan kegagalan yang
menjadi tantangan yang dihadapi dalam membuat kesepakatn kelas adalah pada saat
membuat kesepakatan kelas tidak bisa melihat respon siswa secara langsung pada
saat menyetujui pembuatan kesepakatan kelas karena pembelajaran dari rumah
(BDR) secara daring. Selain itu masih ada beberapa siswa yang belum
menyampaikan idenya dalam membuat kesepakatan kelas, hanya ikut pendapat teman
lain sehingga perlu dorongan dan motivasi untuk bisa mengutarakan pendapatnya.
F. RENCANA PERBAIKANUNTUK PELAKSANAAN DIMASA MENDATANG
Adapun rencana perbaikan untuk pelaksanaan di masa mendatang yaitu:
1. Merefleksikan
bersama apa yang membuat kegagalan penerapan kesepakatan kelas bagi
beberapa siswa, lalu mencari solusi untuk mengatasi masalah – masalah yang ada.
2. Menjalin kerja sama
dengan orang tua siswa untuk meningkatkan disiplin positif sehingga kesepakatan
kelas yang telah disepakati bersama bisa terlaksana secara konsisten dan
menyeluruh.
POSTER
KESEPAKATAN KELAS
ZOOM/GOOGLE MEET MEMBUAT KESEPAKATAN KELAS
DISKUSI DI CHAT DI WHATSAP
Link pada Google Dock Hasil Diskusi Pembuatan Kesepakatan Kelas
https://docs.google.com/document/d/1M7zHWw1uZNulaW1Fgu96IhiMlyslaqbJo-KsemDnT9c/edit?usp=sharing







Komentar
Posting Komentar